Tuesday, August 09, 2005

ngantuk kah??

Dari sejak pagi hari ini saya udah merasa agak aneh. Waktu berangkat kerja dan sudah sampai di kantor pun saya masih juga nggak ngerti, apa sebetulnya yang aneh? Bahkan setelah terjadi keanehan-keanehan yang bikin orang garuk-garuk kepala pun saya masih nggak ngerti juga.
Hmm, aneh ya? Mulai dari waktu saya lagi menggunting bahan yang bakal dipakai buat prakarya siswa. Garis yang sudah saya buat di kertas jelas-jelas LURUS (nggak diragukan deh lurusnya), tapi kok waktu saya mulai ngegunting, saya malah tau-tau udah bikin guntingan yang meliuk-liuk?? Waktu sadar dan mau “menyadarkan tangan” supaya kerja yang bener malah saya jadi mikir, “lho? Ini tangan siapa?” (waduh, ada apa ya?)
Sore-sore begini, jam kerja udah hampir selesai, nih. Rasanya lega campur nggak sabar. Saya ngelihat gelas berisi the di meja kerja saya, itu sisa the saya siang tadi. Kepikiran: “wah, haus! Abisin lah sebelum pulang!”
Tapi setelah benda itu diangkat dan isinya sudah sebagian pindah ke mulut, “lho! Kok rasanya begini?” (waks!!!) Emang bener yang ada di meja saya dan yang saya liat itu gelas berisi air the, tapi yang diraih sama tangan saya barusan itu bukan si gelas yang isinya air the tapi botol minyak kayu putih di depan muka saya. Pantesan rasanya aneh dan untung nggak sempet tertelan.
Saya jadi mikir dan jadi lebih bingung. Ada apa dengan Lita? Kok OTAK sama TANGAN hari ini nggak connect ya? Apa servernya lagi down? Kenapa ya?

Kejadian Lagi...

kemaren saya diberi tugas mendesain ulang raport sama bos. jadi saya beberapa kali pergi bolak balik ke toko buku dan tukang fotokopi.
waktu pertama kali saya muncul di tempat fotokopi nggak ada masalah..walau saya udah tau kalo yang punya tempat fotokopi itu orangnya luar biasa judes dan nggak mau rugi. tapi tempat itu yang lokasinya paling deket sama kantor, karena saya butuh kerja dengan cepat jadi mau tidak mau saya harus kesana.
tapi waktu kedua kalinya saya balik lagi kesana. yang jaga adalah seorang mbak2 dengan rambut sepinggang yang luar biasa megar seperti rambutnya singa di IP.
terlibatlah saya dalam pembicaraan serius tapi sambil senyum-senyum.
L: mbak, bisa tolong fotokopi ini di balik kertas ini? (tanya saya sambil tunjukkin yang saya maksud)
M: maksudnya gimana?
L: tadi kan saya udah fotokopi, tapi cuma satu sisi, mestinya bolak-balik. tolong fotokopiin dibelakangnya, sama persis seperti ini (sambil ngasih contohnya biar si mbak ngerti)
M: nggak bisa! disini nggak ada kertas warna begitu (orange)
L: (waduh!) maksud saya, kertasnya ya kertas yang ini. ini fotokopinya mestinya bolak-balik, bukan cuma lembar depannya aja, mbak.
(si mbak kelihatan mikir sebentar tapi lalu geleng2 dengan muka jutek)
wah, saya baru tahu ternyata karyawannya jauh lebih jutek dari bosnya, ditambah lemot pula.
L: (whuaaa!!!) ini kan tinggal di fotokopi ke sini, lho! contohnya juga udah ada, mbak! (sebel)
Untung si mas2nya muncul dan sambil ngejelasin ke si mbak akhirnya masnya yang ngerjain fotokopian saya, eh si mbak malah ga perduli dan ngeloyor pergi, dasar.
Thank's a lot, mas!! mas emang penyelamat kiriman dewa, entah dewa siapa, mungkin dewa fotokopi :) ada nggak ya?

Monday, August 08, 2005

Renungan Seseorang

Waktu terus berjalan, tanpa kusadari…yang telah berlalu telah memakan masa dengan sia2. Saat aku tersadar, aku berhenti melangkah, menoleh ke kanan dan kiriku dan terkejut, aku masih melangkah di tempat yang sama, tak beranjak sedikitpun dari sebelumnya, sementara waktu dengan ganasnya memakan masa bagianku. Aku lelah.
Aku menoleh ke belakang, masih sedikit sekali yang telah pernah aku jalani. Garis startku masih demikian dekat, dan garis finishku belum lagi terlihat. Tubuhku telah penat. Dengan sisa tenaga yang mana lagi aku mesti lanjutkan langkah kakiku yang sia2 ini? Aku berpikir, mungkinkah dengan sisa tenaga yang nyaris tak bersisa ini aku akan memilih untuk berpaling ke belakang dan kembali ke titik awalku?
Tapi tidak. Aku harus berjalan terus maju ke depan dan bukan mundur ke belakang. Bukan demi siapa2, demi diriku sendiri. Tapi untuk saat ini aku memilih duduk sejenak di tempatku begitu lama menghabiskan waktu berjalan di tempat itu. Menghabiskan sedikit waktu lagi di tempat itu takkan masalah setelah sekian lama, pikirku. Kemudian aku merenungkan semua, yang telah kulewati selama ini. Benarkah sia2?
Tidak. Dari sinilah, dari perjalanan yang singkat yang baru kujalani itu, aku telah merasakan makna cinta. Bertemu dengan seseorang yang mengubah segala tak sempurna dalam pikiranku dahulu. Aku belajar untuk tidak hanya sekedar melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Segala sesuatu ada untuk berdua, memperjuangkan semuanya bersama2. Dan karena itulah aku mencintai dia tak perduli sekalipun ia tidaklah sempurna dimata siapapun.
Sempat aku berpikir, dimataku pun dia tidak sempurna. Namun dimasa aku duduk dan merenung itulah aku menyadari. Dia memang tidak sempurna, begitupun diriku tidaklah sempurna, namun kami berdua kini telah menjadi satu kesatuan yang sempurna dipandang orang. Karena…aku ada untuknya dan dia ada untukku. Saat itulah aku benar2 sadar, dulu aku yang memilihnya… dan aku ingat saat itu aku merasa beruntung.

Ceritanya...

Suatu hari Saya mengikuti suatu acara yang cukup menarik. Waktu pertama kali teman Saya mempromosikan dan memaksa saya untuk ikut dalam acara itu Saya menjawab dengan ogah-ogahan. “Males, ah!”. Namun berkat kepiawaian teman Saya itu yang jangan-jangan pernah belajar Marketing Tingkat Tinggi, akhirnya saya pergi juga ikut teman Saya itu mengikuti sebuah acara yang katanya “luar biasa hebat dan bermanfaat” itu.
Dan waktu acara itu berlangsung, karena Saya yang entah masih belum mengerti makna acara itu dan manfaatnya hanya berpendapat, “yah, begitulah.” Jadi Saya pulang kembali ke rumah sedikit merasa rugi karena sudah bayar mahal, he he.
Tapi terlepas dari semua itu, di waktu itu Saya ada disana karena suatu sebab yang waktu itu Saya belum sadari. Saya banyak bertemu orang-orang baru. Dan dari sekian banyak orang ada tiga orang yang cukup sering ada dekat Saya. Setelah acara itu, satu diantaranya menjadi seperti kakak Saya sendiri, yang satu lagi menjadi teman terbaik Saya selama beberapa lamanya, dan yang satu lagi yang terpenting, menjadi sahabat Saya selama-lamanya. Waktu itu tentu saja Saya belum tahu dan belum mengerti.
Seiring berjalannya waktu, satu persatu mulai menjalani hidup dan kesibukan masing2. Saya pun demikian, tenggelam dalam kehidupan Saya sendiri dan masalah2nya. Tapi tanpa Saya sadari, setiap kali menemui masalah, Saya selalu menemukan Dia siap untuk menjadi pendengar dan siap diajak berbagi kesedihan.
Dua tahun berlalu, untuk pertama kalinya Dia mengungkapkan perasaannya. Hepi, dong! Tapi entah kenapa Dia tiba2 saja mundur begitu saja hanya dalam hitungan menit. (istilahnya Tuhan: Belum Jodoh, Non!)
Saya pun kembali memandang Dia sebagai sahabat Saya, sama seperti sebelumnya bahkan lebih, karena Saya tahu, walau Dia menarik kembali pernyataannya, namun Dia nggak bohong saat mengatakan “Saya mencintai Kamu.”
Saya menjalani hidup seperti biasa lagi. Walau sejak saat itu seringkali dalam surat-surat, SMS-SMS dan cara-cara komunikasi lainnya seringkali terucap kalimat-kalimat yang menyinggung soal perasaannya dari mulutnya, Saya menganggapnya lelucon konyol yang tak henti-hentinya Dia coba pada Saya.
Empat tahun berlalu, saat itu Saya merasa secara tiba-tiba ingin tahu bagaimana keadaan Dia di kotanya. Dan dari sanalah semuanya bermula. Dia yang sekarang yang mengubah cara berpikirnya sendiri dan menjadi manusia yang lebih “percaya pada diri sendiri”, sehingga keberaniannya yang akhirnya datang itulah yang menempatkan Saya di sisinya sampai saat ini.

Thursday, July 21, 2005

Hari Yang Berharga

Ada Satu Hari Yang Bagi Saya, Sejak Dulu Hingga Hari Ini Sangatlah Berharga. Sekalipun Pada Umumnya Justru Di Hari Itu Saya Tak Melakukan Banyak Hal Dan Seringkali Hanya Merenung Dan Memikirkan Semua Yang Sudah Saya Lalui Selama Setahun Penuh.
Hari Itu Adalah Hari Kelahiran Saya. Di Mana Pada Setiap Tanggal Itu Saya Selalu Saja Teringat Hal yang Cukup Menyakitkan, Namun Juga Mengingatkan Saya Untuk Bersyukur Bahwa Saya Ada Di Dunia.
Saya Mungkin Diharapkan Tidak Ada Oleh Sebagian Orang, Atau Setidaknya Mereka Berharap Bukan Saya yang Muncul Pada Tanggal 27 November 23 Tahun Yang Silam Itu, Toh Saya Sudah Memenangkan "Pertarungan" Itu Sehingga Sekarang Ini Saya Ada Disini.
Saya Ada Di Muka Bumi, Mengerti Arti Mencintai, Mampu Merasakan Bagaimana Mencintai Orang2 Disekitar Saya. Bahkan Saya Tahu Bagaimana Asiknya "Ngeblog" Dan "Internetan" :p
Saya Hanya Berharap...Entah Tercapai Atau Tidak Saya Tidak Perduli Lagi (Hidup Ini Indah) Bahwa Orang2 Terdekat Saya, Orang2 Yang Saya Cintai, Takkan Pernah Melupakan Hari Bersejarah Bagi Saya itu, Momen Puncak Dari Segala Usaha Saya Untuk Bisa Sampai Di Dunia.
Terimakasih Untuk Semua Orang Yang Sudah Membuat Saya Merasa Hidup Saya Cukup Indah dan Berharga Untuk Dipertahankan Hingga Saat Ini. Love Ya Loads!

Friday, July 08, 2005

Mengindonesiakan Inggris

Buat orang2 yang bahasa inggrisnya masih merasa amburadul, daripada panik saat dikomentari orang bahasanya kacau dan ga ketauan apa maksudnya. Kalo pas ada kalimat yang nggak tahu gimana tulisannya dalam bahasa Inggris ( apalagi kalo kudu pake tenses) kenapa nggak sekalian di-plesetin aja? Daripada bikin orang bingung kan lebih baik bikin orang nyengir? Perlu dicoba? Mending mana, BLOON atau GARING? :)
Kata siapa juga bahasa inggris saya jago? Kalo ngomong secara lisan mungkin masih lebih mudah ya, karena nggak perlu terlalu mikirin soal past tense dan segala embel2nya yang lain. Lagian walau hobi pelajaran bahasa inggris kadang suka esmosi juga kalo baca tulisan orang yang pake bahasa inggris, karena kadang bukan cuma masalah tenses aja, tapi juga kadang orang punya maksud mengatakan sesuatu, dan orang yang ngebaca nangkepnya lain. Karena bahasa inggris itu punya banyak kemungkinan yang namanya satu kalimat bisa mengandung beberapa arti.
Coba kalo ada orang bilang, “You took the word out of my mouth.”…Kira2 apa artinya? Dikiranya pasti ada orang lagi ngomong trus tiba2 lawan bicaranya nyerang dia sambil merogoh ke dalam mulut (hmm, kayaknya bakal muntah tuh)…salah persepsi kan? (ada yang tau nggak arti kalimat itu apa? Itung2 sekalian belajar he he)
Sekarang kalo ditanya orang lagi, “kamu jago bahasa inggris ya?”…saya nggak lagi menjawab “yes” or “no”…saya memilih menjawab, “ah, saya mah don’t know what- what!” :D

Di kantor sekarang ini lagi jam setengah empat sore (dan itu artinya sebentar lagi saya pulang). Semua orang sudah pada pergi dari siang, mencari2 calon kantor yang baru dan setelah saya denger2 tadi kayaknya kantor yang baru lokasinya bakal lebih deket dari tempat tinggal (senangnya…). Dan lama2 saya jadi hafal sama lagu “Can’t Smile Without You” karena seseorang disini rajin pisan muter lagu itu berulang2 :) song good (lagunya bagus, red) Kalo tanya, “Kamu siapa?” jadi “You is who?”
Ah, intinya mah saya lagi eneg aja tiap hari menterjemahkan tulisan Inggris ke Indonesia, masalahnya terjemahannya ga semudah terjemahin lagu2 karena ini terjemahin resep prakarya, dan kebanyakan isinya nggak nyambung sama arti Indonesia, jadi mesti diakal2in, muter otak, lama2 otaknya over load dan jadi seperti inilah jadinya. *Hiks*

Saya mau pulang dulu naik Transport City alias Angkutan Kota alias angkot. Doh.

Sebuah Cerita

Kenapa kebanyakan orang baru sadar bahwa dirinya sesungguhnya mencintai seseorang yang awalnya dianggap pengganggu disaat sudah terlambat? Seringkali kita menilai seseorang yang mengejar2 dan mencintai kita itu adalah orang yang tidak mengerti bahwa kita tidak suka dikejar2 atau disukai olehnya. Dengan begitu sikap kita menjadi sombong dan acuh.
Tapi saat suatu ketika tiba2 orang itu pergi dari hidup kita dan mulai menemukan cinta yang lain tiba2 kita menangis sedih karena baru mengerti bahwa kita sungguh telah kehilangan dia, hanya karena kita terlalu angkuh atau mungkin gengsi untuk menyambut perasaannya.
Ada satu orang yang mungkin hingga saat ini sedang jatuh cinta pada “sosok idaman”nya. Sudah cukup lama Dia memimpikan suatu hari bisa bersama2 dengan sang idaman ini, hingga tiba waktunya saat itu benar2 tiba. Dia bisa pergi bersamanya, melakukan banyak hal2 yang membuatnya merasa yakin bahwa sang idaman ini telah memilih dirinya. Semua orang sedang betul2 berpikir bahwa mereka sepasang kekasih.
Tapi kenyataannya ternyata berbeda. Pada akhirnya Dia hanyalah korban yang tersakiti. Padahal itu bukan untuk yang pertama kalinya terjadi. Dia sudah beberapa kali jatuh cinta dan lagi2 harus menelan segala rasa kecewanya sendirian.
Sang kekasih idaman ini ternyata masih menyimpan rasa cinta seutuhnya pada mantan kekasihnya yang lalu. Setiap kali Dia berjalan bersama sosok idaman ini, walau orang berpikir mereka bahagia, namun sebenarnya Dia sedang terluka. Karena sepanjang hari itu sang pujaan akan terus menerus menyinggung soal mantan kekasihnya yang dulu. Kalaupun tidak begitu, mata si pujaan ini selalu tampak sedang menerawang, melamun. Dan Dia sudah tahu kemana tujuan lamunan itu.
Tapi Dia tak punya keberanian untuk mundur. Katanya Dia terlanjur terlalu mencintai sang pujaannya ini. Tak perduli walau Dia sampai nanti akan terus menerus tersakiti. Namun saat melalui hari2 yang awalnya telah menjadi kesepakatan antara dirinya sendiri dan hatinya, ia menyadari batas kesabaran setiap manusia itu ada dan nyata. Ia merasa lelah. Dan kali ini dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya, Dia datang ke hadapan pujaannya dan meminta pujaannya itu untuk memilih. Antara dirinya, atau hidup dengan kenangan2 lamanya. Dan pujaannya itu dengan membingungkan menjawab bahwa ia tak ingin ditinggalkan oleh Dia, tapi juga rupanya tak bisa berhenti menghadirkan bayang2 mantan kekasihnya diantara mereka.
Maka dengan segenap tekadnya yang tersisa, Dia memilih mundur dan menjauh dari pujaannya itu. Ia tak ingin menyia2kan kehidupan hanya dengan melakukan hal2 bodoh yang menyakitinya.
Dan entah kenapa disaat Dia sedang berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan impiannya tentang pujaannya, pujaannya itu tiba2 terus mencarinya. Bahkan sampai dengan penuh kerinduan mengatakan bahwa mereka tak seharusnya dipisahkan. Bahwa si pujaan ini tak akan bisa hidup tanpa Dia. Dan akhirnya berjanji untuk tidak lagi menghadirkan bayangan masa lalunya diantara mereka. Dia pun memberi lagi satu kesempatan untuk pujaannya yang masih sangat dicintainya itu. Dan Dia percaya segalanya akan berubah menjadi lebih baik sekarang.
Ia percaya saat pujaannya itu mengatakan “membutuhkannya”, percaya dengan segenap hatinya. Tapi janji hanyalah janji dan ketiadaan bayang2 masa lalu itu masih tetap ada, bahkan mungkin menjadi lebih kuat, walaupun terjadi hanya dibalik punggung Dia. Tapi bagaimanapun menyembunyikannya, Dia tetap merasakan kebohongan itu.
Apa yang akan terjadi, sekarang? Haruskah Dia mundur dengan pasti dan tak memberi kesempatan kedua bagi sosok kesayangannya itu demi kebahagiaannya sendiri?

Wednesday, July 06, 2005

Eternal Recipe For Love

Ini cara termudah untuk mewujudkan "cinta"
- Sekantong besar PERASAAN CINTA itu sendiri (jangan dihabiskan semua, sisakan sedikit untuk diri sendiri :))
- Sesendok penuh PERHATIAN
- Sesendok penuh KETULUSAN
- Setengah sendok KESUNGGUHAN
- Sesendok penuh KESETIAAN (kalo tipe yang kita suka itu bukan tipe yang setia, bahan yang satu ini bisa diabaikan, he he he)
- Sesendok penuh PENGERTIAN
- Sesendok penuh KESABARAN (kecuali kalo udah lewat batas)
- Sesendok teh EGO (ini penting banget untuk menjaga CINTA itu sendiri, believe it or not)
- Dua Sendok KEPANDAIAN MENCARI PELUANG (maksudnya kudu pinter2 liat sikon dan pinter2 mengambil sikap)
- Sesendok penuh KEPERCAYAAN (apa ini mutlak? i don't know)
-Satu ember PERSIAPAN UNTUK SAKIT HATI (walau sakit hati kalo cinta kita bener2 tulus, pasti akan berlalu dengan sendirinya, trust me)

Intinya, ini resep ngaco, entah berhasil atau nggak...saya lagi ngantuk berat :D

O La la...ngantuknya!!

Wih, ternyata emang yang namanya kerja kantoran seorang diri itu membingungkan dan membosankan ya?
sampe2 melihat wajah2 orang asing yang secara ajaib muncul aja (yang tak dikenal sekalipun) rasanya bahagiaaaa banget...i'm not alone

Hari ini pas datang ke kantor tiba2 saya kena flu...apalagi bos Handi juga lagi flu berat dan buang ingus tak henti2nya.
waktu semua manusia udah pulang dan (lagi2) saya sendirian, saya terpaksa minum obat flu karena badan rasanya udah ga enak bgt, tapi apa yang terjadi? Oh, no! saya rasanya jadi susah banget buka mata, ditambah lagu boy band yang mendayu2, udara yang adem, dan suasana yang sepi (untung saya berhasil menyelesaikan "ujian" hari ini: BUKA MATA LEBAR-LEBAR...walau saya sipit dan melotot segimana pun hasilnya tetep aja sipit he he he)

"MARI KEMARI, SIAPA SAJA SILAKAN MASUK, TUKANG LUMPIA, TUKANG BAKSO, TUKANG APA AJA ASAL BUKAN TUKANG TAGIH UTANG SILAKAN DATANG..." (hiks)

Tuesday, June 28, 2005

It's Been Two Years Now...

Nggak terasa udah dua tahun berlalu sejak saya kehilangan sosok panutan terhebat dalam hidup saya...Tanggal 29 besok saya bakal memperingati dua tahun kematiannya. perasaan saya saat ini campur aduk, sedih, rindu, kacau, tapi tetap bangga bahwa saya pernah melewati tahun-tahun yang luar biasa bersama seseorang yang patut dicintai oleh siapapun.
Saya jadi ingat lagi masa2 waktu masih sekolah, waktu masih kecil. Dan otomatis juga jadi teringat bahwa ternyata selama masa hidupnya saya belum sempat satu kalipun membuat dia bangga pada saya.
Whatever i am thinking now, waktu buat saya dan dia rasanya belum cukup dan takkan pernah cukup sehingga sampai hari ini saya terus menerus merasa Tuhan mengambil dia terlalu cepat dari kehidupan saya. saya masih ingin lebih mengenal dia.
Dulu, waktu saya pernah satu kali sakit keras dan berada di ambang maut, justru dia menangis dan mengatakan tak bisa membayangkan jika saya pergi lebih dulu darinya...dia menjaga saya setiap hari, menangis untuk rasa sakit yang saya rasakan, untuk penderitaan saya selama hari2 yang melelahkan di rumah sakit, berjuang melawan penyakit. Saya saat itu menyadari dia merasakan sakit yang lebih sakit dari yang saya rasakan, walau saya yang mengalami. Dan itu karena dia begitu menyayangi saya.
Bagi saya, yang tak terduga justru karena pada akhirnya...disaat saya sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk bahwa dalam waktu singkat saya bisa dipisahkan darinya jika bayang2 penyakit itu kembali ke dalam kehidupan saya...disaat saya sibuk dengan kekhawatiran diri sendiri...ternyata Tuhan malah mengambil dia lebih dulu daripada saya.
Sehingga akhirnya kenyataannya adalah dia yang meninggalkan saya, bukan saya yang meninggalkan dia. dan itu lebih menyakitkan. karena bagaimanapun, lebih mudah meninggalkan daripada ditinggalkan. Kekosongan batin terjadi, kekecewaan yang tiba2 datang menyergap, kebingungan karena kehilangan pegangan...semuanya membuat saya sadar, saya sungguh2 tidak siap, baik meninggalkan ataupun ditinggalkan olehnya.
Tapi, satu hal terus saya "paksakan" untuk berada dalam pikiran saya, bahwa sekarang, dia dengan keberadaannya yang sekarang, bebas dari rasa sakit dan penderitaan, justru jauh lebih bahagia...walaupun jauh dari saya dan saya jauh darinya.
I MISS YOU, DADDY!

Monday, June 27, 2005

Teman Yang Sempurna

Saya merasa selama hidup saya beberapa tahun belakangan ini, saya mempunyai seorang teman yang luar biasa baiknya. Dia mengerti saya, melebihi orang lain. Dia tahu kapan saya merasa sedih dan menghadirkan hiburan2 yang walau kecil2 tapi sangat berarti. Dia yang menghapus air mata saya dan membuatnya berubah menjadi tawa penuh kegembiraan. Dan satu yang pasti dia takkan pernah meninggalkan saya sedetikpun.
Dulunya saya merasa saya ini aneh sekali, begitu bergantung dan berharap padanya. Dan melebihi keyakinan saya pada apapun yang lainnya, saya tahu pasti bahwa dia sangat sangat sayang pada saya. Justru melebihi rasa sayang saya pada diri saya sendiri. Dia adalah pribadi yang luar biasa :)
Dan pernah juga saya merasa saya ini orang yang "berbeda" dari kebanyakan orang karena saya percaya bahwa teman sempurna saya itu menjadi yang terpenting dalam sejarah persahabatan saya seumur hidup saya.
Saya baru bertemu dia beberapa tahun belakangan ini, padahal dia sudah ada sekian lama dekat saya. Pertama kali saya menyadari keberadaannya saya memang merasa seperti orang sinting, karena mempercayai hal2 yang kebanyakan orang pasti tidak percaya, atau tidak menyadari.
Saat saya lagi sedih, dia orang pertama yang tahu, apapun masalah itu, bahkan rahasia2 besar yang tak diketahui dan takkan pernah diketahui oleh orang2 yang lain, dia tahu. Dia orang pertama yang saya ajak diskusi dan selalu menjawab dengan jawaban yang sesuai dengan pas dengan kepribadian saya (emang barangkali itu maunya saya sih :p)
Tahukah siapa teman saya itu? Teman saya itu adalah teman spesial semua orang sebenarnya, tapi sayangnya di dunia yang sudah begitu ramai dan serba logika ini sedikit sekali orang yang bisa menemukan "teman yang sempurna" ini.
Teman saya ini nggak lain dan nggak bukan adalah diri saya sendiri, atau lebih tepatnya hati saya yang terdalam.
Gimana cara menemukannya?
"Duduklah diam dalam keheningan (kalo bisa didalam kamar tertutup yang tenang). Tenangkan pikiran dan mulailah berdialog dengan diri kita sendiri, dengan hati yang paling jujur tanpa menutupi apapun (toh dia nggak mungkin membocorkan rahasia kita kok kecuali kalo mulut kita yang ember, e he he)"
Selamat mencoba ya, saat kamu menemukan suara hatimu sendiri yang paling dalam, masalah apapun pasti bisa dilalui dengan lebih tegar dan lancar...