Dunia Memilihku
Jam dua belas lewat beberapa menit di hari yang terik ini. Tenagaku sudah hampir habis terkuras, tak banyak yang tersisa lagi. Setiap orang yang berjalan melewatiku tersentak menahan napas, melirikku dengan pandangan jijik, sebagian lagi dengan tatapan curiga, dan sisanya dengan pandangan iba. Entah karena perduli pada keberadaanku atau miris membayangkan diri mereka berada di posisiku.
Usiaku sembilan tahun lebih sedikit, kalau tidak salah. Rasanya aku sudah tidak ingat lagi sudah berapa lama hidup di dunia ini. Yang aku ingat masa kecilku. Dulu aku bermain-main di tepian kali, tempat tinggalku, tempatku berlindung bersama kedua orang tua dan dua orang adikku yang masih bayi. Disanalah kami hidup serba kekurangan, namun jiwa kami tidaklah miskin. Kami mandi dari kali yang sama, sumber air minum kamipun dari kali yang sama, tempat pembuangan pun di kali itu juga. Tidak sehat memang tapi toh kami tak perduli apa itu kesehatan. Selama itu kami baik2 saja.
Kegiatanku kini sehari2 naik turun angkot dan bis kota. Kadang tak jarang ditolak dan dimaki oleh sopir angkutan karena dianggap mengganggu ketenangan penumpang. Aku hanya mencoba melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan, menyanyi. Aku tak pernah mengenal sekolah seumur hidupku. Jangankan mengerti nada, mengeja kata pun aku tak mampu. Hanya meniru nyanyian para bintang terkenal dengan susah payah karena apa yang ada dalam bayanganku dan suara yang keluar dari mulutku sama sekali berbeda. Sumbang, kata orang.
Aku tahu mereka yang mendengarku menyanyi ingin sekali berteriak menyuruhku diam, sebagian lagi tertawa mencemooh sambil berbisik2 dan mencebik. Aku pun mengerti hidup mereka pun tidaklah mudah, pulang bekerja dalam keadaan lelah dan stres dan masih dipaksa mendengar suara2 sumbangku. Tapi sekali lagi, hanya ini yang bisa kulakukan. Setidaknya aku berusaha menghibur mereka walau takkan pernah mampu melakukannya dengan benar.
Bahasaku kasar...dan seberapapun usahaku menjelaskan pada mereka bahwa aku sungguh tak bermaksud demikian, mereka tetap menganggapku kurang ajar. Mereka mengembalikan amplop2 pemberianku dengan lemparan jijik dan kesal. Kadang malah membiarkannya saja dipangkuan sambil pura2 tak melihat atau membiarkannya jatuh ke lantai angkutan umum. Sungguh aku juga manusia yang bisa terluka hatinya namun aku tetap memasang senyum di wajahku.
Apa aku salah dengan usahaku yang sedemikian keras untuk mempertahankan hidup? Andaikata hidup ini bukanlah suatu anugerah dari yang Maha Kuasa, akupun tak ingin bertahan lebih lama. Aku merasa mereka sungguh menginginkan aku duduk berpangku tangan menunggu mati tanpa mengganggu kesibukan mereka dan waktu istirahat mereka yang singkat. Kehadiranku di dunia tidaklah penting, hanya merupakan kegagalan alam dalam menyeleksi.
Tapi seandainya itu benar suatu kesalahan, apa salah jika aku mengusahakan yang terbaik saat ini? Toh aku sudah terlanjur berada disini dan melenyapkan suatu kehidupan adalah dosa yang lebih tak termaafkan? Aku tidak melulu menghendaki sedekah berbentuk materi. Asalkan mereka tak memalingkan muka, seulas senyum yang tulus pun cukup membuat semangat hidupku bertambah sehari.
Aku belajar untuk tidak merasa iri pada siapapun. Kedua orangtuaku yang sudah meninggal mengajarkan padaku bahwa miskin harta asalkan bukan miskin hati takkan pernah memalukan.
Kedua orang yang kucintai itu kini sudah berpulang. Mereka tertabrak truk ugal2an saat sedang memulung barang rongsokan di tepian jalan antar kota. Kini hanya ada aku dan dua orang adikku yang masih balita. Kami dikuasai oleh beberapa orang preman yang menuntut setoran setiap petang hari.
Badanku biru dan memar2 setiap kali aku pulang dengan hasil dibawah target. Dua orang adikku disewakan pada pengemis2 yang lebih tua untuk mengelabui para pengendara mobil pribadi. Dijemur dibawah terik matahari dan seringkali sengaja pura2 dilupakan bahwa mereka butuh makanan. Jangankan mereka yang masih balita, akupun takkan sanggup jika berada di posisi adik2ku. Mereka dipukuli jika menangis karena lapar. Aku tak tahu berapa lama lagi mereka bisa bertahan menjalani semua ini.
Kadang aku merasa marah dengan kehidupan yang ditimpakan padaku ini. Aku marah pada sang pencipta. Namun teringat kembali pada pesan2 bapak ibuku. Kehidupan telah memilihku untuk menjadi demikian. Bukan merupakan suatu hukuman namun suatu jalan untuk menuju ke suatu tempat yang telah ditetapkan sedari awal.
Set them free...apa susahnya membagi senyuman yang tulus pada mereka? Tak perduli betapa kotornya tubuh mereka, atau bau yang menguar dari badannya. Mereka manusia dan masih anak2. Andai kantong sedang kosong pun tak ada salahnya mengulas sebuah senyum tulus untuk membagi kekuatan dan semangat hidup pada mereka. Jangan palingkan wajah dari mereka karena hal itu hanya akan semakin membuat mereka menderita. JUST LOVE THEM! THEY DON’T NEED YOUR MONEY IF YOU GAVE IT NOT FROM YOUR HEART!
Usiaku sembilan tahun lebih sedikit, kalau tidak salah. Rasanya aku sudah tidak ingat lagi sudah berapa lama hidup di dunia ini. Yang aku ingat masa kecilku. Dulu aku bermain-main di tepian kali, tempat tinggalku, tempatku berlindung bersama kedua orang tua dan dua orang adikku yang masih bayi. Disanalah kami hidup serba kekurangan, namun jiwa kami tidaklah miskin. Kami mandi dari kali yang sama, sumber air minum kamipun dari kali yang sama, tempat pembuangan pun di kali itu juga. Tidak sehat memang tapi toh kami tak perduli apa itu kesehatan. Selama itu kami baik2 saja.
Kegiatanku kini sehari2 naik turun angkot dan bis kota. Kadang tak jarang ditolak dan dimaki oleh sopir angkutan karena dianggap mengganggu ketenangan penumpang. Aku hanya mencoba melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan, menyanyi. Aku tak pernah mengenal sekolah seumur hidupku. Jangankan mengerti nada, mengeja kata pun aku tak mampu. Hanya meniru nyanyian para bintang terkenal dengan susah payah karena apa yang ada dalam bayanganku dan suara yang keluar dari mulutku sama sekali berbeda. Sumbang, kata orang.
Aku tahu mereka yang mendengarku menyanyi ingin sekali berteriak menyuruhku diam, sebagian lagi tertawa mencemooh sambil berbisik2 dan mencebik. Aku pun mengerti hidup mereka pun tidaklah mudah, pulang bekerja dalam keadaan lelah dan stres dan masih dipaksa mendengar suara2 sumbangku. Tapi sekali lagi, hanya ini yang bisa kulakukan. Setidaknya aku berusaha menghibur mereka walau takkan pernah mampu melakukannya dengan benar.
Bahasaku kasar...dan seberapapun usahaku menjelaskan pada mereka bahwa aku sungguh tak bermaksud demikian, mereka tetap menganggapku kurang ajar. Mereka mengembalikan amplop2 pemberianku dengan lemparan jijik dan kesal. Kadang malah membiarkannya saja dipangkuan sambil pura2 tak melihat atau membiarkannya jatuh ke lantai angkutan umum. Sungguh aku juga manusia yang bisa terluka hatinya namun aku tetap memasang senyum di wajahku.
Apa aku salah dengan usahaku yang sedemikian keras untuk mempertahankan hidup? Andaikata hidup ini bukanlah suatu anugerah dari yang Maha Kuasa, akupun tak ingin bertahan lebih lama. Aku merasa mereka sungguh menginginkan aku duduk berpangku tangan menunggu mati tanpa mengganggu kesibukan mereka dan waktu istirahat mereka yang singkat. Kehadiranku di dunia tidaklah penting, hanya merupakan kegagalan alam dalam menyeleksi.
Tapi seandainya itu benar suatu kesalahan, apa salah jika aku mengusahakan yang terbaik saat ini? Toh aku sudah terlanjur berada disini dan melenyapkan suatu kehidupan adalah dosa yang lebih tak termaafkan? Aku tidak melulu menghendaki sedekah berbentuk materi. Asalkan mereka tak memalingkan muka, seulas senyum yang tulus pun cukup membuat semangat hidupku bertambah sehari.
Aku belajar untuk tidak merasa iri pada siapapun. Kedua orangtuaku yang sudah meninggal mengajarkan padaku bahwa miskin harta asalkan bukan miskin hati takkan pernah memalukan.
Kedua orang yang kucintai itu kini sudah berpulang. Mereka tertabrak truk ugal2an saat sedang memulung barang rongsokan di tepian jalan antar kota. Kini hanya ada aku dan dua orang adikku yang masih balita. Kami dikuasai oleh beberapa orang preman yang menuntut setoran setiap petang hari.
Badanku biru dan memar2 setiap kali aku pulang dengan hasil dibawah target. Dua orang adikku disewakan pada pengemis2 yang lebih tua untuk mengelabui para pengendara mobil pribadi. Dijemur dibawah terik matahari dan seringkali sengaja pura2 dilupakan bahwa mereka butuh makanan. Jangankan mereka yang masih balita, akupun takkan sanggup jika berada di posisi adik2ku. Mereka dipukuli jika menangis karena lapar. Aku tak tahu berapa lama lagi mereka bisa bertahan menjalani semua ini.
Kadang aku merasa marah dengan kehidupan yang ditimpakan padaku ini. Aku marah pada sang pencipta. Namun teringat kembali pada pesan2 bapak ibuku. Kehidupan telah memilihku untuk menjadi demikian. Bukan merupakan suatu hukuman namun suatu jalan untuk menuju ke suatu tempat yang telah ditetapkan sedari awal.
Set them free...apa susahnya membagi senyuman yang tulus pada mereka? Tak perduli betapa kotornya tubuh mereka, atau bau yang menguar dari badannya. Mereka manusia dan masih anak2. Andai kantong sedang kosong pun tak ada salahnya mengulas sebuah senyum tulus untuk membagi kekuatan dan semangat hidup pada mereka. Jangan palingkan wajah dari mereka karena hal itu hanya akan semakin membuat mereka menderita. JUST LOVE THEM! THEY DON’T NEED YOUR MONEY IF YOU GAVE IT NOT FROM YOUR HEART!


3 Comments:
Luar biasa. Apakah Anda yang menulis? Kalau ya, cepat2 cari penerbit siapa tahu mau nulis buku.
hmm, blm sempat baca neh..kepanjangan..heheh..next time I will give my comment :)
What make us human? Not our status, not our wealth, not our appearance, nothing physical. It's our heart.
Post a Comment
<< Home