Monday, June 13, 2005

what should we do?

people killin..people dyin..children hurt.. and women cryin..will you practice what you preachand ..would you turn the other cheek...father father father, help us..need some guidance from above...these people got me.. got me.. question in where is the love? (love) ..where is the love? (the love).. where is the love? (the love) where is the love? (where is the love the love my love)

ini potongan lirik lagunya Black Eyed Peas yang selalu ngingetin saya tentang nasib temen2 kita yang kurang beruntung...yang ada di bumi yang dihancurkan oleh peperangan orang2 dewasa.
mungkin kalimat yang mengatakan "kalau dunia milik anak2 pasti akan tercipta kedamaian" itu paling tepat ya? (mereka cukup puas dengan makan bubur dan buah2an..bukannya memburu binatang yang sebetulnya nggak seharusnya dimangsa, contohnya Rusa.)

Nggak perlu jauh2 sebenernya, saya kalo lagi bepergian naik angkot di Jakarta seringkali melihat "pelecehan" secara tidak langsung pada anak2 dan wanita2 yang mengemis di jalanan. mereka dibentak, diklakson keras2, hanya karena dianggap mengganggu dan berbahaya. Beberapa orang malah beranggapan bahwa anak2 itu sebenernya kaki tangan rampok, deketin mobil hanya untuk pura2 ngelap kaca tapi tujuannya nebar paku disekitar ban mobil (well, maybe satu diantara seratus emang ada yang demikian) tapi pada dasarnya tidak bisakah kita lebih melihat sedikit lebih kedalam? mereka cuma butuh bantuan, bukan berniat mencelakai (kalaupun ada satu diantara seratus itu ya it's ok, tapi kalo menganggap semuanya sama itu namanya nila setitik bikin rusak susu sebelanga kan?)

Saya bukan tipe orang yang terlalu sensitif kalo dalam hal2 semacam ini sebetulnya, tapi kalo melihat anak2 yang udah berpenampilan lusuh dan kurus plus lemah itu masih diklakson sambil dimaki disuruh minggir dari jalanan atau dilarang naik ke dalam angkot karena si sopir takut penumpangnya pada turun, apa itu manusiawi?

di sisi lain...waktu lagi tes lapangan sama Little Finger kemarin saya melihat ada beberapa orang anak yang punya kecenderungan autis...nggak mau bergabung dengan yang lain atau mungkin juga memang dijauhi sama temen2 sebayanya.
pertanyaannya? mengapa anak2 kecil suka menjauhi temen2nya yang dianggap berbeda bahkan kadang dijadiin bahan bulan2an? setelah beberapa jam kemarin saya amat2i, kesalahan lagi2 mungkin terletak pada orang dewasa. gimana tidak? Guru2 yang ada disana itu jauh lebih seneng menemani anak2 yang normal ngobrol dan mengerjakan kerajinan tangan. bagi mereka pastinya lebih mudah begitu kan? toh mereka terima gaji tetap segitu ga perduli yang mereka ajar itu anak2 yg normal dan sudah bisa mandiri tanpa harus mereka urusi, atau bersusah payah dengan anak2 yang pendiam dan susah dipahami.

Anak2 itu diciptakan kan sebagai mahluk yang paling mudah dimengerti dan dipahami karena mereka polos dan pada dasarnya jujur, kan? orang dewasa (lagi2) yang kadang menempatkan mereka dalam posisi "Harus Berbohong", karena orang dewasa maunya denger yang "bagus2", bukan mendengar yang "jujur". Kenapa sih anak2 selalu ditempatkan di posisi menjadi korban kekonyolan orang dewasa? mulai dari kasus yang paling parah, pelecehan seksual..diikuti dengan pelecehan mental (yang ironisnya pelecehan mental ini 99% dilakukan oleh orangtua si anak itu sendiri)...dan kasus2 lainnya...dituntut untuk menjadi perfect, dituntut untuk menjadi seperti gambaran orangtuanya. padahal kalo orang2 tua itu mau sedikit berpikir, emangnya mereka mau diatur2 begitu sama yang lebih tua? nggak mau kan?

yang membuat anak2 bisa jadi aneh, autis, penyendiri, paranoid, dll itu intinya adalah orang dewasa, bener nggak? dan dasar dari semua itu adalah karena orang2 dewasa, orangtua2 di dunia, nggak cukup memiliki kebesaran hati, nggak memiliki cukup cinta kasih untuk menerima malaikat2 kecil yang jujur itu dalam kehidupan mereka yang udah terkontaminasi oleh banyak kebohongan.

dan actually, (karena beberapa kali saya ditanya sama Eric dan Budi soal wawancara dengan Little Finger waktu itu) saya emang sengaja nggak banyak cerita. karena sebetulnya, walau tentunya nggak mengurangi niat saya bergabung dengan Little Finger (saya tetap berharap bisa bergabung)...waktu selama wawancara itu baik saya maupun Janet (yang wawancara saya waktu itu) sama2 sadar, visi kita beda pisan. itu alasan mengapa saya ga yakin saya bakal keterima disana.
mulanya saya kira kan little finger itu seperti yayasan pendidikan secara menyeluruh, ternyata mereka terfokus pada Kesenian dan kreativitas anak2, sedangkan saya cita2nya fokus ke pendekatan sama anak2 yang bermasalah. Janet sudah bilang sama saya waktu itu, "lho kok visinya agak beda ya?"...setidaknya menurut dia masih ada satu kesamaan, saya juga setuju...dengan mengajarkan kesenian dan mengasah kreativitas itu adalah satu cara untuk mengadakan pendekatan yang baik...

wish me luck then :)

1 Comments:

Blogger Budi said...

Semua manusia tidak ada yang sempurna. Susah juga dibilang salah siapa duluan atau paling besar salahnya siapa. Do the best, Lit :)

Tuesday, June 21, 2005 9:43:00 PM  

Post a Comment

<< Home