Friday, July 08, 2005

Sebuah Cerita

Kenapa kebanyakan orang baru sadar bahwa dirinya sesungguhnya mencintai seseorang yang awalnya dianggap pengganggu disaat sudah terlambat? Seringkali kita menilai seseorang yang mengejar2 dan mencintai kita itu adalah orang yang tidak mengerti bahwa kita tidak suka dikejar2 atau disukai olehnya. Dengan begitu sikap kita menjadi sombong dan acuh.
Tapi saat suatu ketika tiba2 orang itu pergi dari hidup kita dan mulai menemukan cinta yang lain tiba2 kita menangis sedih karena baru mengerti bahwa kita sungguh telah kehilangan dia, hanya karena kita terlalu angkuh atau mungkin gengsi untuk menyambut perasaannya.
Ada satu orang yang mungkin hingga saat ini sedang jatuh cinta pada “sosok idaman”nya. Sudah cukup lama Dia memimpikan suatu hari bisa bersama2 dengan sang idaman ini, hingga tiba waktunya saat itu benar2 tiba. Dia bisa pergi bersamanya, melakukan banyak hal2 yang membuatnya merasa yakin bahwa sang idaman ini telah memilih dirinya. Semua orang sedang betul2 berpikir bahwa mereka sepasang kekasih.
Tapi kenyataannya ternyata berbeda. Pada akhirnya Dia hanyalah korban yang tersakiti. Padahal itu bukan untuk yang pertama kalinya terjadi. Dia sudah beberapa kali jatuh cinta dan lagi2 harus menelan segala rasa kecewanya sendirian.
Sang kekasih idaman ini ternyata masih menyimpan rasa cinta seutuhnya pada mantan kekasihnya yang lalu. Setiap kali Dia berjalan bersama sosok idaman ini, walau orang berpikir mereka bahagia, namun sebenarnya Dia sedang terluka. Karena sepanjang hari itu sang pujaan akan terus menerus menyinggung soal mantan kekasihnya yang dulu. Kalaupun tidak begitu, mata si pujaan ini selalu tampak sedang menerawang, melamun. Dan Dia sudah tahu kemana tujuan lamunan itu.
Tapi Dia tak punya keberanian untuk mundur. Katanya Dia terlanjur terlalu mencintai sang pujaannya ini. Tak perduli walau Dia sampai nanti akan terus menerus tersakiti. Namun saat melalui hari2 yang awalnya telah menjadi kesepakatan antara dirinya sendiri dan hatinya, ia menyadari batas kesabaran setiap manusia itu ada dan nyata. Ia merasa lelah. Dan kali ini dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya, Dia datang ke hadapan pujaannya dan meminta pujaannya itu untuk memilih. Antara dirinya, atau hidup dengan kenangan2 lamanya. Dan pujaannya itu dengan membingungkan menjawab bahwa ia tak ingin ditinggalkan oleh Dia, tapi juga rupanya tak bisa berhenti menghadirkan bayang2 mantan kekasihnya diantara mereka.
Maka dengan segenap tekadnya yang tersisa, Dia memilih mundur dan menjauh dari pujaannya itu. Ia tak ingin menyia2kan kehidupan hanya dengan melakukan hal2 bodoh yang menyakitinya.
Dan entah kenapa disaat Dia sedang berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan impiannya tentang pujaannya, pujaannya itu tiba2 terus mencarinya. Bahkan sampai dengan penuh kerinduan mengatakan bahwa mereka tak seharusnya dipisahkan. Bahwa si pujaan ini tak akan bisa hidup tanpa Dia. Dan akhirnya berjanji untuk tidak lagi menghadirkan bayangan masa lalunya diantara mereka. Dia pun memberi lagi satu kesempatan untuk pujaannya yang masih sangat dicintainya itu. Dan Dia percaya segalanya akan berubah menjadi lebih baik sekarang.
Ia percaya saat pujaannya itu mengatakan “membutuhkannya”, percaya dengan segenap hatinya. Tapi janji hanyalah janji dan ketiadaan bayang2 masa lalu itu masih tetap ada, bahkan mungkin menjadi lebih kuat, walaupun terjadi hanya dibalik punggung Dia. Tapi bagaimanapun menyembunyikannya, Dia tetap merasakan kebohongan itu.
Apa yang akan terjadi, sekarang? Haruskah Dia mundur dengan pasti dan tak memberi kesempatan kedua bagi sosok kesayangannya itu demi kebahagiaannya sendiri?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home