Tuesday, August 09, 2005

ngantuk kah??

Dari sejak pagi hari ini saya udah merasa agak aneh. Waktu berangkat kerja dan sudah sampai di kantor pun saya masih juga nggak ngerti, apa sebetulnya yang aneh? Bahkan setelah terjadi keanehan-keanehan yang bikin orang garuk-garuk kepala pun saya masih nggak ngerti juga.
Hmm, aneh ya? Mulai dari waktu saya lagi menggunting bahan yang bakal dipakai buat prakarya siswa. Garis yang sudah saya buat di kertas jelas-jelas LURUS (nggak diragukan deh lurusnya), tapi kok waktu saya mulai ngegunting, saya malah tau-tau udah bikin guntingan yang meliuk-liuk?? Waktu sadar dan mau “menyadarkan tangan” supaya kerja yang bener malah saya jadi mikir, “lho? Ini tangan siapa?” (waduh, ada apa ya?)
Sore-sore begini, jam kerja udah hampir selesai, nih. Rasanya lega campur nggak sabar. Saya ngelihat gelas berisi the di meja kerja saya, itu sisa the saya siang tadi. Kepikiran: “wah, haus! Abisin lah sebelum pulang!”
Tapi setelah benda itu diangkat dan isinya sudah sebagian pindah ke mulut, “lho! Kok rasanya begini?” (waks!!!) Emang bener yang ada di meja saya dan yang saya liat itu gelas berisi air the, tapi yang diraih sama tangan saya barusan itu bukan si gelas yang isinya air the tapi botol minyak kayu putih di depan muka saya. Pantesan rasanya aneh dan untung nggak sempet tertelan.
Saya jadi mikir dan jadi lebih bingung. Ada apa dengan Lita? Kok OTAK sama TANGAN hari ini nggak connect ya? Apa servernya lagi down? Kenapa ya?

Kejadian Lagi...

kemaren saya diberi tugas mendesain ulang raport sama bos. jadi saya beberapa kali pergi bolak balik ke toko buku dan tukang fotokopi.
waktu pertama kali saya muncul di tempat fotokopi nggak ada masalah..walau saya udah tau kalo yang punya tempat fotokopi itu orangnya luar biasa judes dan nggak mau rugi. tapi tempat itu yang lokasinya paling deket sama kantor, karena saya butuh kerja dengan cepat jadi mau tidak mau saya harus kesana.
tapi waktu kedua kalinya saya balik lagi kesana. yang jaga adalah seorang mbak2 dengan rambut sepinggang yang luar biasa megar seperti rambutnya singa di IP.
terlibatlah saya dalam pembicaraan serius tapi sambil senyum-senyum.
L: mbak, bisa tolong fotokopi ini di balik kertas ini? (tanya saya sambil tunjukkin yang saya maksud)
M: maksudnya gimana?
L: tadi kan saya udah fotokopi, tapi cuma satu sisi, mestinya bolak-balik. tolong fotokopiin dibelakangnya, sama persis seperti ini (sambil ngasih contohnya biar si mbak ngerti)
M: nggak bisa! disini nggak ada kertas warna begitu (orange)
L: (waduh!) maksud saya, kertasnya ya kertas yang ini. ini fotokopinya mestinya bolak-balik, bukan cuma lembar depannya aja, mbak.
(si mbak kelihatan mikir sebentar tapi lalu geleng2 dengan muka jutek)
wah, saya baru tahu ternyata karyawannya jauh lebih jutek dari bosnya, ditambah lemot pula.
L: (whuaaa!!!) ini kan tinggal di fotokopi ke sini, lho! contohnya juga udah ada, mbak! (sebel)
Untung si mas2nya muncul dan sambil ngejelasin ke si mbak akhirnya masnya yang ngerjain fotokopian saya, eh si mbak malah ga perduli dan ngeloyor pergi, dasar.
Thank's a lot, mas!! mas emang penyelamat kiriman dewa, entah dewa siapa, mungkin dewa fotokopi :) ada nggak ya?

Monday, August 08, 2005

Renungan Seseorang

Waktu terus berjalan, tanpa kusadari…yang telah berlalu telah memakan masa dengan sia2. Saat aku tersadar, aku berhenti melangkah, menoleh ke kanan dan kiriku dan terkejut, aku masih melangkah di tempat yang sama, tak beranjak sedikitpun dari sebelumnya, sementara waktu dengan ganasnya memakan masa bagianku. Aku lelah.
Aku menoleh ke belakang, masih sedikit sekali yang telah pernah aku jalani. Garis startku masih demikian dekat, dan garis finishku belum lagi terlihat. Tubuhku telah penat. Dengan sisa tenaga yang mana lagi aku mesti lanjutkan langkah kakiku yang sia2 ini? Aku berpikir, mungkinkah dengan sisa tenaga yang nyaris tak bersisa ini aku akan memilih untuk berpaling ke belakang dan kembali ke titik awalku?
Tapi tidak. Aku harus berjalan terus maju ke depan dan bukan mundur ke belakang. Bukan demi siapa2, demi diriku sendiri. Tapi untuk saat ini aku memilih duduk sejenak di tempatku begitu lama menghabiskan waktu berjalan di tempat itu. Menghabiskan sedikit waktu lagi di tempat itu takkan masalah setelah sekian lama, pikirku. Kemudian aku merenungkan semua, yang telah kulewati selama ini. Benarkah sia2?
Tidak. Dari sinilah, dari perjalanan yang singkat yang baru kujalani itu, aku telah merasakan makna cinta. Bertemu dengan seseorang yang mengubah segala tak sempurna dalam pikiranku dahulu. Aku belajar untuk tidak hanya sekedar melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Segala sesuatu ada untuk berdua, memperjuangkan semuanya bersama2. Dan karena itulah aku mencintai dia tak perduli sekalipun ia tidaklah sempurna dimata siapapun.
Sempat aku berpikir, dimataku pun dia tidak sempurna. Namun dimasa aku duduk dan merenung itulah aku menyadari. Dia memang tidak sempurna, begitupun diriku tidaklah sempurna, namun kami berdua kini telah menjadi satu kesatuan yang sempurna dipandang orang. Karena…aku ada untuknya dan dia ada untukku. Saat itulah aku benar2 sadar, dulu aku yang memilihnya… dan aku ingat saat itu aku merasa beruntung.

Ceritanya...

Suatu hari Saya mengikuti suatu acara yang cukup menarik. Waktu pertama kali teman Saya mempromosikan dan memaksa saya untuk ikut dalam acara itu Saya menjawab dengan ogah-ogahan. “Males, ah!”. Namun berkat kepiawaian teman Saya itu yang jangan-jangan pernah belajar Marketing Tingkat Tinggi, akhirnya saya pergi juga ikut teman Saya itu mengikuti sebuah acara yang katanya “luar biasa hebat dan bermanfaat” itu.
Dan waktu acara itu berlangsung, karena Saya yang entah masih belum mengerti makna acara itu dan manfaatnya hanya berpendapat, “yah, begitulah.” Jadi Saya pulang kembali ke rumah sedikit merasa rugi karena sudah bayar mahal, he he.
Tapi terlepas dari semua itu, di waktu itu Saya ada disana karena suatu sebab yang waktu itu Saya belum sadari. Saya banyak bertemu orang-orang baru. Dan dari sekian banyak orang ada tiga orang yang cukup sering ada dekat Saya. Setelah acara itu, satu diantaranya menjadi seperti kakak Saya sendiri, yang satu lagi menjadi teman terbaik Saya selama beberapa lamanya, dan yang satu lagi yang terpenting, menjadi sahabat Saya selama-lamanya. Waktu itu tentu saja Saya belum tahu dan belum mengerti.
Seiring berjalannya waktu, satu persatu mulai menjalani hidup dan kesibukan masing2. Saya pun demikian, tenggelam dalam kehidupan Saya sendiri dan masalah2nya. Tapi tanpa Saya sadari, setiap kali menemui masalah, Saya selalu menemukan Dia siap untuk menjadi pendengar dan siap diajak berbagi kesedihan.
Dua tahun berlalu, untuk pertama kalinya Dia mengungkapkan perasaannya. Hepi, dong! Tapi entah kenapa Dia tiba2 saja mundur begitu saja hanya dalam hitungan menit. (istilahnya Tuhan: Belum Jodoh, Non!)
Saya pun kembali memandang Dia sebagai sahabat Saya, sama seperti sebelumnya bahkan lebih, karena Saya tahu, walau Dia menarik kembali pernyataannya, namun Dia nggak bohong saat mengatakan “Saya mencintai Kamu.”
Saya menjalani hidup seperti biasa lagi. Walau sejak saat itu seringkali dalam surat-surat, SMS-SMS dan cara-cara komunikasi lainnya seringkali terucap kalimat-kalimat yang menyinggung soal perasaannya dari mulutnya, Saya menganggapnya lelucon konyol yang tak henti-hentinya Dia coba pada Saya.
Empat tahun berlalu, saat itu Saya merasa secara tiba-tiba ingin tahu bagaimana keadaan Dia di kotanya. Dan dari sanalah semuanya bermula. Dia yang sekarang yang mengubah cara berpikirnya sendiri dan menjadi manusia yang lebih “percaya pada diri sendiri”, sehingga keberaniannya yang akhirnya datang itulah yang menempatkan Saya di sisinya sampai saat ini.