Monday, August 08, 2005

Ceritanya...

Suatu hari Saya mengikuti suatu acara yang cukup menarik. Waktu pertama kali teman Saya mempromosikan dan memaksa saya untuk ikut dalam acara itu Saya menjawab dengan ogah-ogahan. “Males, ah!”. Namun berkat kepiawaian teman Saya itu yang jangan-jangan pernah belajar Marketing Tingkat Tinggi, akhirnya saya pergi juga ikut teman Saya itu mengikuti sebuah acara yang katanya “luar biasa hebat dan bermanfaat” itu.
Dan waktu acara itu berlangsung, karena Saya yang entah masih belum mengerti makna acara itu dan manfaatnya hanya berpendapat, “yah, begitulah.” Jadi Saya pulang kembali ke rumah sedikit merasa rugi karena sudah bayar mahal, he he.
Tapi terlepas dari semua itu, di waktu itu Saya ada disana karena suatu sebab yang waktu itu Saya belum sadari. Saya banyak bertemu orang-orang baru. Dan dari sekian banyak orang ada tiga orang yang cukup sering ada dekat Saya. Setelah acara itu, satu diantaranya menjadi seperti kakak Saya sendiri, yang satu lagi menjadi teman terbaik Saya selama beberapa lamanya, dan yang satu lagi yang terpenting, menjadi sahabat Saya selama-lamanya. Waktu itu tentu saja Saya belum tahu dan belum mengerti.
Seiring berjalannya waktu, satu persatu mulai menjalani hidup dan kesibukan masing2. Saya pun demikian, tenggelam dalam kehidupan Saya sendiri dan masalah2nya. Tapi tanpa Saya sadari, setiap kali menemui masalah, Saya selalu menemukan Dia siap untuk menjadi pendengar dan siap diajak berbagi kesedihan.
Dua tahun berlalu, untuk pertama kalinya Dia mengungkapkan perasaannya. Hepi, dong! Tapi entah kenapa Dia tiba2 saja mundur begitu saja hanya dalam hitungan menit. (istilahnya Tuhan: Belum Jodoh, Non!)
Saya pun kembali memandang Dia sebagai sahabat Saya, sama seperti sebelumnya bahkan lebih, karena Saya tahu, walau Dia menarik kembali pernyataannya, namun Dia nggak bohong saat mengatakan “Saya mencintai Kamu.”
Saya menjalani hidup seperti biasa lagi. Walau sejak saat itu seringkali dalam surat-surat, SMS-SMS dan cara-cara komunikasi lainnya seringkali terucap kalimat-kalimat yang menyinggung soal perasaannya dari mulutnya, Saya menganggapnya lelucon konyol yang tak henti-hentinya Dia coba pada Saya.
Empat tahun berlalu, saat itu Saya merasa secara tiba-tiba ingin tahu bagaimana keadaan Dia di kotanya. Dan dari sanalah semuanya bermula. Dia yang sekarang yang mengubah cara berpikirnya sendiri dan menjadi manusia yang lebih “percaya pada diri sendiri”, sehingga keberaniannya yang akhirnya datang itulah yang menempatkan Saya di sisinya sampai saat ini.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home