Monday, August 08, 2005

Renungan Seseorang

Waktu terus berjalan, tanpa kusadari…yang telah berlalu telah memakan masa dengan sia2. Saat aku tersadar, aku berhenti melangkah, menoleh ke kanan dan kiriku dan terkejut, aku masih melangkah di tempat yang sama, tak beranjak sedikitpun dari sebelumnya, sementara waktu dengan ganasnya memakan masa bagianku. Aku lelah.
Aku menoleh ke belakang, masih sedikit sekali yang telah pernah aku jalani. Garis startku masih demikian dekat, dan garis finishku belum lagi terlihat. Tubuhku telah penat. Dengan sisa tenaga yang mana lagi aku mesti lanjutkan langkah kakiku yang sia2 ini? Aku berpikir, mungkinkah dengan sisa tenaga yang nyaris tak bersisa ini aku akan memilih untuk berpaling ke belakang dan kembali ke titik awalku?
Tapi tidak. Aku harus berjalan terus maju ke depan dan bukan mundur ke belakang. Bukan demi siapa2, demi diriku sendiri. Tapi untuk saat ini aku memilih duduk sejenak di tempatku begitu lama menghabiskan waktu berjalan di tempat itu. Menghabiskan sedikit waktu lagi di tempat itu takkan masalah setelah sekian lama, pikirku. Kemudian aku merenungkan semua, yang telah kulewati selama ini. Benarkah sia2?
Tidak. Dari sinilah, dari perjalanan yang singkat yang baru kujalani itu, aku telah merasakan makna cinta. Bertemu dengan seseorang yang mengubah segala tak sempurna dalam pikiranku dahulu. Aku belajar untuk tidak hanya sekedar melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Segala sesuatu ada untuk berdua, memperjuangkan semuanya bersama2. Dan karena itulah aku mencintai dia tak perduli sekalipun ia tidaklah sempurna dimata siapapun.
Sempat aku berpikir, dimataku pun dia tidak sempurna. Namun dimasa aku duduk dan merenung itulah aku menyadari. Dia memang tidak sempurna, begitupun diriku tidaklah sempurna, namun kami berdua kini telah menjadi satu kesatuan yang sempurna dipandang orang. Karena…aku ada untuknya dan dia ada untukku. Saat itulah aku benar2 sadar, dulu aku yang memilihnya… dan aku ingat saat itu aku merasa beruntung.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home